Konfersi Cerita Sangkuriang
Kisah Sangkuriang Dan Dayang Sumbi
Berkisah pada jaman dahulu di daerah Jawa Barat, seorang wanita cantik bernama Dayang Sumbi hidup dengan putranya Sangkuriang dan anjing kesayangan mereka.
Anjing tersebut selalu menemani kemana Sangkuriang pergi namun tidak pernah membantu sangkuriang dalam berburu. Hal itu tentunya membuat Sangkuriang tidak menyukai anjingnya.
Suatu hari kemarahan sangkuriang tidak dapat terbendung dan membuatnya tega membunuh anjingnya. Lalu saat sesampai di rumah, Sangkuriang memberikan hati anjingnya untuk ibunya.
Dayang Sumbi yang tidak mengetahuinya lalu memasaknya dan memakannya. Saat Dayang Sumbi bertanya di mana anjingnya, Sangkuriang berbicara bahwa anjingnya telah dibunuh dan hatinya diberikan kepada Dayang Sumbi.
Mendengar hal tersebut Dayang Sumbi marah dan memukul kepala Sangkuriang hingga berdarah. Sangkuriang kemudian pergi meninggalkan rumah. Hal yang membuat Dayang Sumbi marah karena anjing tersebut merupakan jelmaan ayah Sangkuriang.
Hati anjing yang dimakan Dayang Sumbi membuatnya awet muda dan semakin cantik saja. Sehingga saat beberapa tahun kemudian Sangkuriang pulang dan tidak mengenali ibunya tersebut.
Sangkuriang jatuh cinta pada Dayang Sumbi dan berniat menikahinya. Awalnya Dayang Sumbi tidak menolak namun suatu hari saat sedang membenarkan ikat kepala Sangkuriang Dayang Sumbi melihat sebuah luka di kepala.
Dimana mengingatkannya dengan kejadian saat dahulu Dayang Sumbi melukai anaknya dengan memukul di kepala.
Hal itu membuat Dayang Sumbi sadar yang akan menikahinya adalah anaknya sendiri. Sehingga Dayang Sumbi menolak pernikahan tersebut namun Sangkuriang seperti tidak mau menerima kenyataan dan tetap ingin menikahi ibu kandungnya sendiri
Akhirnya Dayang Sumbi memberikan persyaratan yaitu Sangkuriang harus mampu membendung sungai Citarum dan membuatkan sampan besar. Semua itu harus selesai dalam satu malam.
Ternyata Sangkuriang meminta bantuan jin untuk sehingga permintaan Dayang Sumbi dengan mudah diselesaikan. Akhirnya sebelum fajar pekerjaan sudah hampir selesai.
Dengan bantuan warga Dayang Sumbi mampu menggagalkan Sangkuriang menyelesaikan syaratnya yaitu kain sutra dibentang ke arah timur kota sehingga seperti fajar. Merasa gagal akhirnya sangkuriang menghancurkan pekerjaannya tersebut.
Sehingga bendungan yang rusak membuat seluruh kota terendam. Sampan yang telah dibuat pun ditendang Sangkuriang hingga jatuh terlungkup membentuk sebuah gunung. Dimana gunung inilah yang dikenal dengan nama Tangkuban Perahu.
Konfersi Drama:
Part 1
Dahulu Kala , di sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang
raja berjulukan Prabu Sungging Perbangkara, hidup seorang gadis yang bagus
jelita berjulukan Dayang Sumbi. Dayang Sumbi ialah anak dari Prabu Sungging
Perbangkara. Karena kecantikannya, Dayang Sumbi banyak menerima lamaran dari
para raja dan pangeran dari negeri seberang. Namun Dayang Sumbi tidak
mendapatkan satu pun lamaran karena tidak ingin terjadi pertumpahan darah di
antara para raja dan pangeran tersebut. Ia kemudian meminta izin pada Ayahnya
untuk mengasingkan diri ke hutan. Prabu Sungging pun mengizinkannya. Ia
menciptakankan Dayang Sumbi sebuah pondok di pinggir hutan dan alat tenun untuk
Dayang Sumbi. Dayang Sumbi pun tinggal di pondok tersebut.
Suatu malam, ketika Dayang Sumbi sibuk menenun kain, ada
suatu hal yang mengganggunya.
Dayang Sumbi : Hmm, malam ini nampaknya tidak ibarat
malam-malam biasanya. Aku merasa sangat lelah, padahal kain yang kukerjakan
gres selesai setengah. Mungkin saya harus istirahat lebih cepat, tapi akan
kukerjakan doloe tenunan ini semampuku.
(Dayang Sumbi menenun sambil terkantuk-kantuk. Tiba-tiba
sebuah gulungan benang terjatuh dan menggelinding ke luar pondok)
Dayang Sumbi: Aduh gulungan benangku! Kenapa harus
menggelinding ke luar di ketika yang tidak sempurna begini sih. Benang itu
niscaya sudah menggelinding jauh ke bawah.
(Dayang Sumbi melongok ke luar pintu untuk memastikan
dugaannya)
Dayang Sumbi: Benar, tidak ada di depan rumah. Pasti sudah
jauh di bawah. Bagaimana ini ya? Aku ingin mengambilnya, tapi saya sangat
lelah. Aku juga takut keluar malam-malam begini.
Dayang Sumbi yang terlihat lemas kemudian duduk di dipan
bersahabat alat tenunnya. Tanpa disadari ia bergumam dan mengucapkan sumpah.
Dayang Sumbi: Aku sangat membutuhkan benang itu. Siapapun
yang mengambilkan dan mempersembahkan benang itu padaku, apabila perempuan akan
saya jadikan saudara, apabila laki-laki akan saya jadikan suami.
Tak usang setelah Dayang Sumbi mengucapkan sumpahnya, muncul
sebuntut anjing, Anjing itu membawa gulungan benang milik Dayang Sumbi.
Dayang Sumbi: Wah, ini kan benangku. Terima kasih anjing
yang baik.
(Dayang Sumbi kemudian teringat sumpahnya)
Dayang Sumbi: Ah, saya sudah bersumpah, jadi meskipun kamu
sebuntut anjing, saya akan menepati sumpahku.
(Dayang Sumbi memperhatikan anjing itu baik-baik)
Dayang Sumbi: Err... Karena kamu laki-laki maka saya akan
mengangkatmu menjadi suamiku.
Tiba-tiba muncul keajaiban. Anjing tersebut berubah menjadi
seorang laki-laki tampan. Dayang Sumbi yang menyaksikan bencana tersebut sambil
terheran-heran.
Dayang Sumbi: Ka..ka..engkau siapa? Kenapa engkau bisa
muncul dari wujud sebuntut anjing?
Pria Tampan: Maafkan saya yang mengejutkanmu tuan putri. Aku
ialah titisan dewa. Karena malam ini ialah malam purnama, saya sanggup berubah
ke wujud asliku.
Dayang Sumbi dan Pria Tampan jelmaan sebuntut anjing
tersebut kemudian memadu kasih. Dayang Sumbi memanggil kekasihnya dengan nama
Tumang. Mereka hidup bersama tanpa diketahui oleh siapa pun, termasuk Prabu
Sungging Perbangkara. Dari kekerabatan mereka berdua, lahirlah seorang anak
yang didiberi nama Sangkuriang.
Part 2
Sangkuriang tumbuh menjadi anak laki-laki ganteng yang rajin
dan lincah. Setiap hari ia selalu memmenolong ibunya dengan berburu rusa, ikan,
dan binatang lainnya untuk dimakan. Ia selalu dikawani oleh si Tumang yang
berwujud sebuntut anjing ketika berburu. Sangkuriang tidak mengetahui kalau
Tumang ialah ayahnya.
Suatu hari Sangkuriang dan Tumang pergi berburu rusa.
Sangkuriang ingin sekali mempersembahkan hati rusa yang nikmat kepada ibunya.
Ia dan Tumang berburu seharian, tetapi tidak satu pun rusa yang sanggup ia
tangkap hari ini.
(Sangkuriang berhenti berlari dan nafasnya tersengal-sengal
kelelahan)
Sangkuriang: Sudah dari pagi hingga siang kita berburu, tapi
tidak ada satu pun rusa yang sanggup kita tangkap.
(Sangkuriang melirik Tumang yang terlihat kelelahan)
Sangkuriang: Kelihatannya engkau sudah capek ya, Tumang.
Kamu sudah banyak berlari hari ini. Aku juga sudah lelah. Yuk kita pulang.
Tiba-tiba di tengah perjalanan pulang, Sangkuriang melihat
sebuntut rusa. Ia berusaha memburunya.
(Sangkuriang melepaskan anak panah)
Sangkuriang: Ah, kena. Pasti bisa tertangkap kalau dikejar.
Ayo Tumang, kejar rusa itu.
(Tumang kelelahan. Ia tak mengejar rusa itu)
Sangkuriang: Tumang! Kenapa kamu membisu saja?! Cepat kejar
rusa itu semoga kita bisa makan malam ini!
(Tumang spesialuntuk bergeming, membisu tak bergerak)
Sangkuriang: Tumang! Kalau kamu tak mengejar rusa itu, saya
akan memanahmu.
Sangkuriang menakut-nakuti Tumang dengan panahnya semoga
Tumang mau mengejar rusa. Namun sebab Sangkuriang sudah lelah, tak sengaja
tangan yang menahan anak panahnya terlepas dan anak panah itu terkena Tumang.
Tumang pun tewas.
Sangkuriang: Aduh, saya tidak berniat membunuhnya, tapi
malah begini jadinya.
(Sangkuriang sedikit gelagapan, namun ia berusaha hening dan
mengambil keputusan terbaik menurutnya)
Sangkuriang: Hmm, saya tidak berhasil berburu rusa hari ini,
jadi saya akan pulang dengan tangan hampa. Tapi
ada Tumang yang tak sengaja terkena panahku. Aku pikir, daripada saya
dan ibu tidak makan hari ini, Aku bawa saja daging Tumang. Hati Tumang juga
akan kudiberikan pada ibu.
Sangkuriang pun membawa daging Tumang ke rumahnya.
Part 3
Sangkuriang hingga di rumah dan menyerahkan daging dan hati
si Tumang kepada ibunya. Dayang Sumbi tidak menyadari kalau hasil buruan yang diserahkan
anaknya ialah si Tumang.
Sangkuriang: Ibu, ini saya bawa hasil buruan hari ini. Aku
sudah memotong-motong dagingnya. Ini juga ada hati kesukaan ibu.
Dayang Sumbi: Wah, anak pintar. Kita akan makan lezat malam
ini. Baiklah, Ibu akan memasak.
Sangkuriang: Iya Bu. Aku akan menunggu kuliner ibu yang
enak.
Sesudah memasak, Dayang Sumbi menyantap masakannya dengan
Sangkuriang. Sambil menyantap kuliner yang disajikan, Dayang Sumbi bertanya
pada Sangkuriang tentang perburuan hari ini.
Dayang Sumbi: Nak, bagaimana perburuanmu tadi? Menyenangkan?
Sangkuriang: Tidak sangat senang ibarat biasanya, Bu.
Perburuan hari ini susah. Aku berburu rusa dari pagi tapi sangat susah
menangkap rusa-rusa itu. Aku hingga sangat kelelahan.
Dayang Sumbi: Tapi risikonya engkau mendapatkan rusa juga
kan. Kamu juga bahkan mempersembahkan hati rusa kesukaan Ibu. Tapi rasanya
sedikit tidak sama ya.
(Sangkuriang tidak menanggapi sambil terus makan)
Dayang Sumbi: Lalu ke mana Tumang? Biasanya pada ketika
makan malam beliau masuk ke dalam rumah. Terakhir beliau berburu denganmu kan
Nak?
Sangkuriang : Err... bahwasanya saya tidak menerima sebuntut
rusa pun hari ini, Bu. Aku dan Tumang gagal mengejar rusa untuk kita makan.
Saat mengejar rusa, saya tak sengaja memanah Tumang. Lalu saya pikir tidak ada
salahnya mengganti daging rusa dengan daging si Tumang semoga kita bisa makan
hari ini. Toh beliau juga sudah mati.
(Dayang Sumbi kaget mendengar perkataan Sangkuriang)
Dayang Sumbi: Apa engkau bilang?! Ja.. jadi yang kita makan
ini Tumang?! Dasar anak durhaka! Tumang itu Ayahmu!
(Dayang Sumbi mengambil centong kayu dan memukul pelipis
kanan Sangkuriang keras-keras)
Sangkuriang: Aaah sakit Bu!
(Dayang Sumbi menangis dan memukul Sangkuriang lagi di
pelipis kirinya dan Sangkuriang jatuh tersungkur)
Dayang Sumbi: Kamu anak durhaka. Kamu membunuh Ayahmu
sendiri. Pergi engkau dari sini!
melaluiataubersamaini kepala yang terluka dan rasa pusing
yang teramat sangat, Sangkuriang pergi dari rumahnya menuju hutan yang petang
di malam gulita. Ia pergi sambil terus menangis. Dayang Sumbi melihatnya sambil
menangis. Ia duka melihat anaknya pergi, namun rasa kecewa menahan dirinya untuk menghentikan Sangkuriang.
Sesudah amarahnya reda, Dayang Sumbi memohon suatu hal pada
Dewata.
Dayang Sumbi: Wahai Dewa yang Agung, hamba sudah membuat
anak hamba meninggalkan hamba dan hamba tak tahu kapan ia akan kembali. Untuk
itu hamba mohon semoga rupa hamba tidak berubah hingga hamba bertemu dengan
anak hamba sehingga ia sanggup mengenali hamba.
Part 4
Beberapa tahun silam. Permohonan Dayang Sumbi dikabulkan
oleh Dewata. Walau tahun-tahun sudah berganti, rupa Dayang Sumbi tetap cantik,
sama persis ibarat ketika ia mengajukan ajakan doloe. Selama itu pula Dayang
Sumbi hidup sebatang kara dan hidup dari menenun.
Suatu hari, seorang cowok berparas ganteng hadir ke rumah
Dayang Sumbi. Ia terlihat lelah.
Pemuda Tampan : Jauh juga hutan ini. Aku hingga kelelahan
menelusurinya. Perbekalanku juga sudah habis. Eh, ada sebuah pondok kecil.
Mungkin saya bisa diberistirahat sejenak di situ.
(Pemuda Tampan menghampiri rumah Dayang Sumbi)
Pemuda Tampan: Permisi, apa ada orang di sini? Aku seorang
pengembara meminta izin untuk diberistirahat sebentar di . . . .
(Dayang Sumbi keluar rumah. Pemuda Tampan tertegun melihat
kecantikannya)
Dayang Sumbi: Ah, iya, saya pemilik pondok ini. Kalau tuan
pengembara ingin melepas lelah sejenak, tuan boleh singgah sejenak. Silahkan
duduk.
(Dayang Sumbi dan Pemuda Tampan duduk di serambi rumah
Dayang Sumbi)
Pemuda Tampan: Terima kasih atas kebaikan nona. Sebelumnya
perkenalkan, namaku Jaka. Aku sedang mengembara untuk mencari asal-usulku.
Dayang Sumbi: Namaku Dayang Sumbi. Wah, tuan Jaka mengembara
hingga ke hutan ini. Apakah doloe keluarga tuan tinggal di sekitar hutan ini?
Jaka : Aku tidak ingat tentang keluargaku. Aku bahkan tidak
ingat namaku sendiri ketika ditemukan oleh guruku, Ki Ageng. Ki Ageng yang
memdiberiku nama. Ia juga mengajariku banyak sekali macam ilmu. Sampai pada
suatu hari, ada perasaan yang mendorongku untuk mencari asal-usulku. Lalu Ki Ageng
menyampaikan padaku untuk melaksanakan perjalanan ke hutan ini semoga saya
menemukan asal usulku.
Dayang Sumbi: Semoga tuan Jaka sanggup menemukan asal usul
tuan. Aku senang bisa memmenolong dengan mempersembahkan daerah istirahat bagi
tuan.
Jaka : Sekali lagi
terima kasih nona. Saat ini perbekalanku juga sudah habis. Aku mungkin akan
bermalam beberapa hari sambil berburu untuk mengisi perbekalanku. Aku juga akan
memmenolong pekerjaan sehari-hari nona dan mempersembahkan binatang buruan
untuk membalas akal nona.
Dayang Sumbi: Oh, ya, tuan bisa menginap di rumahku ini.
Kebetulan ada satu kamar kosong. Itu ialah kamar anak aku, tetapi sudah usang
ia tidak pulang. Tuan bisa memakainya.
Jaka : Ah iya, terima kasih atas tumpangannya, nona Dayang
Sumbi.
Sejak hari itu, Dayang Sumbi dan Jaka sering bertegur dan
melaksanakan acara bersama. Rasa percaya dan perasaan bersahabat di antara
keduanya menimbulkan benih-benih cinta. Jaka pun menetap lebih lama.
Part 5
Suatu siang, setelah Jaka selesai berburu, ia dan Dayang Sumbi
bercengkrama-bincang di serambi rumah.
Dayang Sumbi: Bagaimana perburuan hari ini? Kau sanggup
banyak buruan?
Jaka : Cukup banyak. Aku bahkan menerima sebuntut rusa
besar. Sedang kuasapi dagingnya kini semoga bisa kita simpan untuk persediaan
beberapa hari. Kau tahu? Rusa itu begitu lincah, saya hingga kewalahan
menangkapnya. Lihat saja rambutku yang awut-awutan ini. Aku harus bergumul
dengannya doloe hingga ia menyerah.
Dayang Sumbi: Hahaha, ibarat seru sekali perburuanmu kali
ini. Sini, saya rapihkan rambutmu.
(Jaka pulas di pangkuan Dayang Sumbi. Dayang Sumbi mengambil
sisir dan merapikan rambut Jaka)
Saat merapikan rambut Jaka, Dayang Sumbi melihat bekas luka
di pelipis kanan Jaka. Ia pikir itu mungkin spesialuntuk luka biasa. Namun
alangkah terkejutnya Dayang Sumbi ketika menyisir kepingan kiri rambut Jaka. Ia
melihat luka yang hampir sama di situ. Dayang Sumbi tertegun. Luka itu niscaya
bukan luka biasa. Ia kemudian teringat dengan Sangkuriang anaknya. Ya, luka itu
tak salah lagi niscaya milik Sangkuriang. Dayang Sumbi pun tersadar bahwa Jaka
bahwasanya ialah anaknya yang sudah usang menghilang, Sangkuriang.
Jaka/ Sangkuriang: Kenapa engkau berhenti? Rambutku sudah
rapih? Kau memang baik. Selain itu kamu begitu bagus dan lembut. Dayang Sumbi, sudah
usang saya menyukaimu. Aku pun tahu kalau kamu menyukaiku. Oleh sebab itu, saya
mempunyai satu niat. Aku ingin berkeluarga denganmu.
(Dayang Sumbi yang belum pulih dari rasa terkejut akhir
mengetahui bahwa Jaka ialah anaknya, kembali terkejut mendengar perkataan Jaka)
Dayang Sumbi: Ah, eh, apa kamu bilang? Ingin berkeluargaiku?
Err... sebentar doloe Jaka. Aku gres menyadari sesuatu.
(Jaka/Sangkuriang bangun dari pulasnya dan menghadap Dayang
Sumbi).
Jaka/ Sangkuriang: Ada apa? Apakah perkataanku guah? Ya,
saya fokus ingin berkeluargaimu.
Dayang Sumbi: Tungu doloe Jaka. Begini, doloe saya pernah
bertengkar dengan anakku. Aku memukulnya dengan centong kayu. Aku memukul
sempurna di kedua pelipisnya. Dan ketika saya menyisir rambutmu tadi, saya gres
menyadari kalau kamu mempunyai bekas luka yang sama di kedua pelipismu. Aku
yakin kalau kamu ialah anakku, Sangkuriang. Karena kamu anakku, kamu tidak
sanggup berkeluargaiku.
Jaka/ Sangkuriang: Apa? Aku anakmu? Kau niscaya bercanda.
Kalau kamu ibuku, kamu niscaya sudah menjadi sorang perempuan tua. Namun kamu
seumuran denganku. Bahkan kamu terlihat lebih muda. Kau spesialuntuk mencari
alasan untuk menolak lamaranku kan?
Dayang Sumbi: Benar. Aku tidak bohong. Lihat saja bekas luka
di kedua pelipismu.
Jaka/ Sangkuriang: Aku tidak percaya. Semua orang bisa
mempunyai bekas luka ibarat ini.
(Dayang Sumbi berpikir untuk menghindari ijab kabul dengan
anaknya. Ia kemudian mempunyai sebuah ide)
Dayang Sumbi: Baiklah kalau kamu tetap bersikeras mau
berkeluargaiku. Aku mempunyai dua syarat untukmu. Pertama, buatkan sebuah danau
dan sebuah bahtera sebagai hadiah ijab kabul kita. Kedua, kamu harus
menuntaskan danau dan bahtera tersebut sebelum fajar esok hari.
Jaka/Sangkuriang: Membuat danau dan bahtera dalam waktu
semalam untukmu? Apa pun syaratnya akan ku kerjakan. Baiklah, saya pergi doloe
kini untuk memenuhi syaratmu.
Dayang Sumbi terkejut dengan tindakan Jaka/Sangkuriang yang
menyanggupi tantangannya. Ia hingga tak bisa berkata-kata dan melihat
Jaka/Sangkuriang pergi sambil terdiam.
Part 6
Jaka/Sangkuriang berhenti dan bertapa di pinggir Sungai
Citarum. melaluiataubersamaini ilmu dan kesaktiannya yang diajarkan oleh Ki
Ageng, ia sanggup berkomunikasi dengan para jin. Ia meminta menolongan para jin
untuk membendung Sungai Citarum sehingga membentuk suatu danau dan membuat
sebuah kapal yang megah.
Jaka/Sangkuriang: Wahai para jin, saya bertapa ingin meminta
menolongan padamu
Pemimpin jin: Apa yang mau kamu minta pada kami anak muda?
Jaka/Sangkuriang: Aku ingin meminta menolongan untuk membuat
sebuah danau dan sebuah kapal yang megah dalam satu malam.
Pemimpin jin: Hanya itu? Hahahaha, ajakan yang tidak susah.
Baiklah saya akan menyuruh anak buahku memmenolongmu. Tapi anak buahku
spesialuntuk memmenolongmu hingga batas jelas di langit. Ketika langit mulai
jelas dan fajar mulai naik, anak buahku akan eksklusif pergi.
Jaka/Sangkuriang: Ya,tidak apa. Terima kasih atas
menolonganmu.
Jin-jin yang dimintai menolongan Jaka/Sangkuriang bekerja
dengan cepat. Dalam sekejap saja mereka sudah menyusun dinding-dinding untuk
membendung Sungai Citarum. Dayang Sumbi yang melihat dari kejauhan mulai
khawatir. Ia kemudian memikirkan cara untuk menggagalkan pekerjaan
Jaka/Sangkuriang.
Dayang Sumbi: Alangkah saktinya ia. Kalau begini ia bisa
memenuhi syarat yang kuajukan dengan gampang. Aku harus menggagalkannya, tapi
dengan apa ya?
(Dayang Sumbi melihat kain boeh rangrang hasil tenunannya.
Kain itu berwarna putih dan berkilau, persis ibarat matahari terbit.)
Dayang Sumbi: Ah, ya, saya akan mengelabui ia dengan kain
itu. Aku akan membuat solah-olah fajar sudah terbit. Kebetulan saya mempunyai
kain tenunan itu dalam jumlah banyak. Aku akan meminta menolongan penduduk desa
untuk menebarkannya.
Dayang Sumbi kemudian pergi menuju desa di pinggir hutan. Ia
meminta menolongan para penduduk untuk menebarkan kain. Penduduk yang sudah
usang mengenal Dayang Sumbi bersedia memmenolongnya.
Part 7
Pekerjaan Jaka/Sangkuriang sudah hampir selesai. Bendungan
danau hampir rampung. Kapal sedikit lagi selesai. Namu, ketika tiang pancang
kapal akan dipasang, jin-jin yang memmenolong Jaka/Sangkuriang menghilang.
Jaka/Sangkuriang: Hah?! Kenapa jin-jin itu menghilang? Sedikit
lagi bahtera itu selesai. Aku juga yakin kini belum waktunya fajar. Aku sudah
menghitungnya.
(Jaka/Sangkuriang melihat ke arah timur. Dari kejauhan ia
melihat kaki langit yang berwarna putih dan bersinar)
Jaka/Sangkuriang: Itu..? Benarkah itu fajar? Tidak mungkin.
Aku sudah memperhitungkan waktunya. Sekarang seharusnya fajar belum hadir.
Tak berapa lama, sinar di timur menghilang. Langit kembali
menjadi petang. Jaka/Sangkuriang yang menyadarinya menjadi geram.
Jaka/Sangkuriang: Argh! Ya, sudah kuduga kalau itu
spesialuntuk tipuan. Perempuan itu menipuku. Argh!
(Jaka/Sangkuriang menendang bahtera besar yang hampir
selesai. Perahu besar tersebut jatuh tertangkub.)
Jaka/Sangkuriang: Aku harus mengejar dan menemuinya.
Jaka/Sangkuriang dengan cepart berlari menuju pondok Dayang
Sumbi. Sementara itu, Dayang Sumbi yang melihat Jaka/Sangkuriang mengejarnya
dari kejauhan lari, Ia lari menuju Gunung Putri
Dayang Sumbi: Aku harus lari untuk menghindari amarah
Sangkuriang. Dewata tolong lindungi hamba dan biarkan Sangkuriang tidak sanggup
menemui hamba.
(Dayang Sumbi yang datang di Gunung Putri seketika berubah
menjadi menjadi setangkai bunga, yaitu Bunga Jaksi)
Jaka/Sangkuriang: Di mana dia?! Aku tadi melihatnya lari
menuju daerah ini?! Argh.
Jaka/Sangkuriang terus berlari mencari Dayang Sumbi hingga
ia hingga di daerah yang berjulukan Ujung Berung dan menghilang ke alam gaib.
Itulah kisah tentang legenda tangkuban perahu. Kisah tentang ibu dan anak yang terlibat konflik dan kekerabatan terlarang. Sang Ibu, Dayang Sumbi, berubah menjadi setangkai bunga, dan sang anak, Sangkuriang, hilang tertelan ke alam gaib. Perahu yang jatuh tertangkub akhir ditendang oleh Sangkuriang pun berubah menjadi sebuah pegunungan yang kini dikenal sebagai Gunung Tangkuban Perahu.
Komentar
Posting Komentar